skip to Main Content
Branding with Purpose | One-Stop Branding Solutions About & Services halo@ardiandinar.net
101 Tips Membangun Komunitas yang Bermanfaat dan Bermakna

101 Tips Membangun Komunitas yang Bermanfaat dan Bermakna

Komunitas - Ardian Dinar Pratama




Komunitas menjadi salah satu elemen penting dalam bermasyarakat. Bermula dari karakter manusia yang senang untuk berkelompok, munculah wadah yang mengakomodasi kepentingan tersebut. Komunitas ada yang hanya wadah sekumpulan orang dan adapula yang organisasi struktural. Pahami lebih lanjut kuy berikut ini,

Fundamental Komunitas

Hakikatnya komunitas adalah wadah bagi sekelompok orang dari beragam elemen masyarakat yang memiliki nilai, tujuan yang sama dan berupaya mencapainya dengan mesin organisasi tersebut.

Berdasarkan jenisnya, komunitas terbagi jadi 3 yaitu,

  • Berbasis Minat, yaitu sekumpulan orang yang memiliki ketertarikan dan minat yang sama terhadap sesuatu. Wadah ini bertujuan untuk memperdalam pengetahuan dan keterampilan anggotanya.
  • Berbasis Lokasi, yaitu sekelompok orang yang berdomisili di satu tempat/daerah. Wadah ini bertujuan untuk saling mengenal antar individu dan mengembangkan wilayahnya
  • Berbasis Komuni, yaitu sekumpulan orang yang terbentuk atas kepentingan dan keinginan bersama untuk mencapai tujuan suatu organisasi tertentu. Seperti halnya perhimpunan profesi.

Berdasarkan penjelasan diatas, Apakah kamu pernah berkomunitas di salah satu jenis tersebut? Jika pernah, Apa yang kamu rasakan & dapatkan ketika terlibat di dalamnya? Share di kolom komentar yaa 😀

Beralih ke pembahasan utama, komunitas yang berkelanjutan memiliki beberapa aspek pendukung nih. Adapun penjelasannya sebagai berikut,

1. Tetapkan Tujuan Berkomunitas yang tertuang dalam Visi & Misi Komunitas

Great Spirit, Grand Strategy by Ardian Dinar Pratama

Membangun komunitas tentu harus memiliki tujuan yang jelas. Apakah itu sebatas mengembangkan hobi, nambah relasi, ataupun ningkatin skillmu? itu pilihan.

Komunitas yang baik adalah medium yang dapat membuat setiap anggotanya bertumbuh dari aspek pengetahuan & keterampilan secara berkelanjutan. Disamping itu menambah relasi, meningkatkan rasa kepekaan terhadap orang lain dan masyarakat.

Pada tahap inilah keberlanjutan organisasi akan ditentukan. Bisa jadi kurang tepatnya strategi, akan berdampak besar. Tentu dalam hal ini, perlu adanya kebijaksanaan dari para pengurus untuk memperhatikan seluruh aspek yang bersangkutan.

Adanya sebuah visi membantu komunitas untuk tetap pada jalur yang benar. Tau apa yang ingin dicapai bersama. Dimulai dengan membayangkan ingin dibawa kemana organisasi tersebut dalam kurun waktu setahun, atau beberapa tahun kedepan.

Begitupun misi sebagai pembedahan dari visi yang bersifat umum tersebut dalam poin-poin yang mudah untuk dilakukan

Contoh :

Organisasi PERHUMAS Muda Semarang memiliki paparan visi dan misi sebagai berikut,

Menjadi platform kepemudaan terdepan dalam pembelajaran dan kegiatan kehumasan yang bermakna bagi pengurus, anggota dan masyarakat di Semarang.



2. Buat Struktur Kepengurusan & Sistem Regenerasi

Secara umum komunitas memiliki struktur kepengurusan. Tujuan adanya struktur tersebut adalah memahami tugas pokok dan fungsi masing dalam menjalankan roda aktivitas.

Setiap orang yang ada berperan sesuai bidangnya masing-masing untuk memerankan fungsinya. Apakah orang itu sebagai konseptor atau eksekutor.

Saya meyakini bahwasanya, komunitas juga sama seperti organisasi bisnis yang ada, hanya perbedaannya di kepentingan yang akan dicapai. Kita perlu memetakan struktur organisasi memiliki 3 pembagian yaitu,

Tingkatan Manajemen Organisasi
Tingkatan Manajemen Organisasi. Sumber: Management Study Guide

Mari kita bahas satu persatu terkait tingkatan manajemen diatas,

a. Top of Management, terdiri dari ketua umum, wakil ketua, sekretaris dan bendahara. Manajemen puncak adalah sumber utama wewenang dan mengelola tujuan dan kebijakan untuk suatu organisasi. Ini mencurahkan lebih banyak waktu untuk fungsi perencanaan dan koordinasi.

b. Middle of Management, jajaran ini terdiri dari kepala departemen yang bertanggung jawab kepada manajemen puncak untuk berfungsinya departemen mereka. Mereka mencurahkan lebih banyak waktu untuk fungsi organisasi dan arah.

c. Lower of Management, terdiri atas supervisor dan pengawas. Bagian ini memastikan bahwa arahan dari manajemen tingkat atas dan menengah selaras dengan tugas yang sedang dikerjakan oleh para staf.

Belum tentu setiap organisasi memperlukan 3 tingkatan manajemen tersebut, bisa jadi hanya perlu top of management saja. Hal ini kembali pada kebutuhan setiap komunitas yang ada. Jika anggotanya banyak dan programnya beragam, tentu perlu adanya strata manajemen yang mengelolanya kan?


Sistem Regenerasi

Tahun demi tahun akan dilalui setiap organisasi, keberlanjutan dari komunitas tergantung dari sistem regenerasinya. Kepengurusan menjadi pilar yang sangat vital. Jika tidak dipersiapkan dengan baik, justru tahun berikutnya tidak optimal bahkan justru mangkrak.

Pihak top of management bersama departemen Human Capital/HRD, perlu menyiapkan sistem open recruitment bagi next pengurus dan anggota. Selain menambah amunisi sumber daya manusia, juga dapat menjadi media yang mutakhir dalam mengkomunikasikan eksistensi & program kepada masyarakat luas.

3. Siapkan Program Komunitas

Keberadaan organisasi komunitas belumlah sempurna ketika sekadar Ada saja. Eksistensi ini seyogyanya diimbangi dengan hadirnya program yang relevan dan bermanfaat bagi publik internal maupun eksternal.

Dalam penyusunan program, fokuskanlah pada pengembangan internal komunitas terlebih dahulu sebelum eksternal. hal ini karena pondasi internal haruslah lebih kokoh. SDM yang ada harus tangkas, sebelum menyajikan program eksternal yang lebih sukar.

Berikut ini program internal dan eksternal yang dapat kamu terapkan,



4. Sepakati Sistem Keuangan Bersama

Setiap komunitas memiliki kekuatan finansial yang berbeda. Ada yang memiliki sumber pendapatan tetap dari pengelola pusat, ada yang harus struggling/mandiri.

jika masuk pada golongan dapat bagian dari pengelola pusat maka sisa kebutuhan bisa ditolong oleh sistem kas. Jika berada pada golongan kedua? harus putar otak dari jajaran pimpinan hingga anggota kan?

Maka dalam membangun komunitas perlu adanya sistem keuangan yang baik. Terutama sistem cashflow yang sehat. Berimbang antara program yang dihasilkan dengan outputnya.

Umumnya, pada komunitas dikenal beberapa sistem pendanaan seperti adanya KAS (per bulan), donatur, sponsorship, kerjasama mutualisme dan sebagainya.

Urusan perbendaharaan dan alokasi anggaran perlu di pahami secara benar agar pengeluaran tidak over yang dapat mengakibatkan krisis. Ini berbahaya, karena roda pergerakan terhambat. Maka dari pimpinan organisasi perlu mereview dan mengalokasikan setiap dana untuk beragam kegiatan organisasi dengan baik.

5. Bangun Relasi dengan Semua Pihak

Membangun relasi antar komunitas

Berkoneksi atau berjejaring itu sebuah keharusan. Terlebih dapat berkolaborasi dengan pihak lain, tentu menjadi sebuah pencapaian tersendiri.

Membangun komunitas yang sustainable tidak berfokus hanya pada internal saja, melainkan pihak eksternal harus dirawat sebaik mungkin. Pemangku kepentingan yang lain justru membawa sesuatu hal yang besar bagi komunitasmu. Misalnya, kolaborasi project hingga kerjasama dalam pendanaan.

Berikut tips dalam menjalin dan merawat relasi dengan pihak eksternal yang relevan bagi komunitasmu,

  • Petakan Pemangku Kepentingan, tahap ini menjadi sangat penting karena kita perlu memahami siapa yang bersinggungan langsung dengan kita. Misalnya, Pemerintah, Korporat, dan sebagainya
  • Jalin komunikasi dua arah melalui kanal online & tatap muka
  • Menghadiri kegiatan pihak eksternal (jika diundang) ataupun boleh berkunjung jika terdapat program yang terbuka untuk umum

6. Gunakan Media Sosial untuk Berkomunikasi & Menarik Minat Masyarakat

Strategi Media Sosial bagi Komunitas dan Organisasi

Era modern menuntut kita untuk lebih adaptif, salah satunya mengadopsi media daring seperti website dan media sosial. Media sosial terbukti cukup ampuh (based on observasi) untuk meningkatkan awareness.

Komunitas yang notabene minim dana untuk promosi, akan lebih efektif ketika menggunakan media sosial. Terlebih setiap orang saat ini sudah menjamah digital, terutama generasi Y & Z. Ini sebuah momentum untuk lebih agresif dalam menjalin komunikasi intens dengan audience dan menarik minat masyarakat terhadap komunitas kita.

Kamu bisa baca tulisanku tentang Membangun dan Pemasaran Media Sosial. Panduan tersebut membahas secara komprehensif tentang sosial media. Selamat membaca 😀

7. Membranding Komunitas secara tepat

Dalam proses membangun komunitas, kita harus memahami visi dan misi yang telah dibuat. Tidak berhenti pada titik itu saja, melainkan kita perlu mamahami mengemas program komunikasi komunitas menjadi lebih menarik.

Bagi para pemimpin organisasi komunitas, penting untuk memulai dari sekarang dalam membranding komunitasmu! Secara sederhana dapat dimulai dengan beberapa langkah berikut ini,

  • Ketahuilah tujuan organisasimu secara jelas
  • Tentukan langkah “Bagaimana persepsi orang lain ingin melihat komunitasmu”
  • Senadakan seluruh atribut komunitas sesuai dengan karakter dasar yang ingin dibentuk
  • Komunikasikanlah secara progresif melalui berbagai media
  • More Experiment! 🙂



8. Tunjuk Seorang Mentor

Menentukan Mentor Komunitas

Dalam proses membangun komunitas, peran mentor akan berpengaruh. Hal ini karena sang mentor tersebut telah memiliki pengalaman dan ilmu yang cukup mengarahkan komunitas ke arah yang lebih baik.

Tugas para pemimpin organisasi komunitas inilah yang cukup sulit, yaitu menemukan mentor yang tepat. Terlebih tidak semua orang bersedia untuk membimbing, bahkan ada yang sekadar membimbing dan malah ada juga yang mengantarkan ke jurang.

Sungguh tantangan karena salah langkah akan berakibat fatal. Maka ada beberapa tips dalam memilih mentor komunitasmu nih,

  • Pahami latar belakangnya secara jelas, terutama track recordnya
  • Memiliki semangat yang sama dengan komunitasmu
  • Memiliki kompetensi dalam bidang pengembangan komunitas

9. Buat Ketentuan Kode Etik Komunitas

Seperti layaknya sebuah organisasi formal bisnis, komunitas juga perlu memiliki syarat, ketentuan dan peraturan yang mengikat. Mengikat kepada seluruh orang yang berada di naungan komunitas.

Hal ini akan menjadi pakem yang kuat dan batasan dalam berkegiatan. Setiap anggota dibuat untuk taat terhadap ketentuan yang berlaku agar terhindar dari perbuatan tercela yang mengakibatkan buruknya citra komunitas. Pakem ini tentu perlu di sesuaikan dengan kebutuhan tiap organisasi komunitas. Selaras dengan visi organisasi juga.

Maka dalam hal ini perlu dibuat juga Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga (AD ART) yang jelas. Jika hal ini ada, maka kejelasan terhadap keberadaan organisasi cukup lengkap dan berkarakter.



Kesimpulan

Ketika kita memahami tujuan dalam berkomunitas, maka kita sudah berada pada jalan yang tepat. Membangun komunitas bukan perkara mudah, banyak aspek yang perlu dirancang dengan presisi. Tentu bukan 1x jadi, melainkan melalui proses learning by doing.

Dengan panduan tersebut, harapannya dapat memberikan guideline untuk para cendekiawan muda dan masyarakat untuk mempunyai komunitas yang baik. Baik secara value internal hingga menghasilkan produk organisasi komunitas yang bermanfaat bagi bangsa Indonesia.

Demikian 101 Tips Membangun Komunitas yang bermanfaat dan bermakna, jika ada pertanyaan lebih lanjut dapat bertanya di kolom komentar atau dapat berkonsultasi secara one on one melalui kolom contact yang tersedia 🙂

Ardian Dinar Pratama

Founder of MudaPedia Indonesia, Brand Enthusiast, Chairman at PERHUMAS Muda Semarang & Project Manager at Kompas Corner SCU

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top